Sabtu, 28 Maret 2015

Perekonomian Indonesia

Bab I
Sistem Ekonomi Indonesia

A.   Arti Sistem
Banyak ahli di berbagai disiplin ilmu menggemukakan pendapatnya mengenai arti sistem. Namun, apapun definisinya suatu sistem perlu memiliki ciri sebagai berikut (Suroso, 1993) :
·         Setiap sistem memiliki tujuan
·         Setiap sistem mempunyai ‘batas’ yang memisahkannya dari lingkungan
·         Walau mempunyai batas, sistem tersebut bersifat terbuka, dalam arti berinteraksi juga dengan lingkungannya
·         Suatu sistem dapat terdiri dari beberapa subsistem yang biasa juga disebut dengan bagian, unsur, atau komponen
·         Walau sistem tersebut terdiri dari beberapa subsistem, tidak berarti bahwa sistem tersebut merupakan sekedar kumpulan dari beberapa subsistemnya, melainkan merupakan suatu kebulatan yang utuh dan padu, atau memiliki sifat ‘wholism’
·         Terdapat saling hubungan dan saling ketergantunganbaik didalam sistem (intern) itu sendiri, maupun antara sistem dengan lingkungannya
·         Setiap sistem melakukan kegiatan atau proses transformasi atau proses mengubah masukan menjadi keluaran. Karena itulah maka sistem sering disebut juga sebagai ‘processor’ atau ‘transformator’
·         Didalam sistem terdapat mekanisme kontrol dengan memanfaatkan tersedianya umpan balik
·         Karena adanya mekanisme kontrol itu maka sistem mempunyai kemampuan mengatur diri sendiri dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya atau keadaan secara otomatik

B.   Perkembangan Sistem Perekonomian Pada Umumnya
Subsistem adalah sistem perekonomian yang terjadi pada awal peradaban manusia. Karakteristik perekonomiannya yaitu orang melakukan kegiatan ekonomi dalam hal produksi, agar memenuhi kebutuhan sendiri aau kelompok saja. Dengan kata lain pada saat itu orang belum teralu berfikir melakukan kegiatan ekonomi untuk pihak lain, apalagi untuk mengambil keuntungan. Kalaupun ada, orang tersebut hanya untuk mendapatkan barang lain (barter), biasanya untuk kepentingan masing-masing pihak.
Sistem barter tidak lagi dapat dipertahankan, mengingat banyaknya hambatan-hambatan yang dihadapi seperti :
·         Sulitnya mempertemukan dua atau lebih pihak yang memiliki keinginan yang sama
·         Sulitnya menentukan komoditi yang dipertukarkan
·         Sulitnya melakukan pembayaran yang tertunda
·         Sulitnya melakukan transaksi denga jumlah besar
Dengan banyaknya hambatan-hambatan, akhirnya para cedikiawan memikirkan sistem perekonomian lain yang lebih bermanfaat dan digunakan oleh manusia. Hasil-hasil pemikiran para ahli sebagai berikut :
1.      Sistem Perekonomian Pasar (Liberalis/Kapitalisme)
Dasar bekerjanya sistem ini adalah ‘Invisible Hand’ atau tangan-tangan yang tidak kelihatan yang dicetuskan oleh ahli ekonomi Adam Smith. Dasar ini berasal dari paham kebebasan. Buku Adam Smith yang berjudul ‘The Theory of Sentiment’ menjadi kerangka moral bagi ide-ide ekonominya (1759).
Paham kebebasan ini sejalan dengan pandangan ekonomi kaum klasik, dimana mereka menganut paham ‘Laissez Faire’, yang mengkehendaki kebebasan melakukan kegiatan ekonomi dengan seminim mungkin campur tangan pemerintah.
Kaum klasik berpendapat seperti itu, karena mereka beranggapan bahwa keseimbangan ekonomi atau pasar akan tercipta dengan sendirinya. Dasar pemikiran kaum klasik tersebut adalah :
·         Hukum ‘SAY’, yang mengatakan bahwa setiap komoditi yang diproduksi tentulah ada yang membutuhkannya.
Dengan hukum ini para pengusaha atau produsen tidak perlu khawatir jika barang dagangannya akan tersisa, karena berapapun yang diproduksi akan digunakan oleh masyarakat.
·         Harga setiap komoditi bersifat fleksibel.
Dengan demikian keseimbangan akan selalu terjadi. Kalaupun terjadi ketidakseimbangan pasar (kekurangan atau kelebihan komoditi) itu hanya bersifat sementara, karena untuk selanjutnya keadaan tersebut akan kembali dalam kondisi seimbang (equilibrium).
Menurut kaum klasik tugas pemerintah sebagai berikut :
·         mengelola kegiatan yang tidak efisien jika ditangani oleh pihak swasta.
Misalnya mengelola pamong praja dan sejenisnya.
·         Membantu memperlancar dan menciptakan kondisi yang mendukung kegiatan ekonomi yang sedang berlangsung.
Contohnya membangun prasarana jalan agar transportasi menjadi lancar, mengeluarkan kebijaksanaan yang mendukung, dan sejenisnya.
Dengan kondisi perekonomian semacam itu, pemerintah memiliki 3 tugas yang sangat (Suroso, 1993) yakni :
·         Berkewajiban melindungi negara dari kekerasan dan serangan negara liberal lainnya
·         Melindungi setiap anggota masyarakat sejauh mungkin dari ketidakadilan atau penindasan oleh anggota masyarakat lainnya atau mendirikan badan hukum yang dapat diandalkan
·         Mendirikan dan memelihara beberapa institusi atau saran untuk umum yang tidak dapat dibuat oleh perorangan dikarenakan keuntungan yang di dapat darinya terlalu kecil sehingga tidak dapat menutupi biayanya.
Diantara para ahli yang cukup terkenal dan hingga sampai saat ini pandangannya masih relefan adalah J.M Keynes, yang berpendapat bahwa negara yang merupakan suatu kekuatan diluar sistem liberalis ini haruslah ikut campur tangan dalam kegiatan ekonomi agar pekerjaan selalu tersedia bagi semua warganya.
Secara umum karakterisktik sistem ekonomi liberalis/kapitalisme adalah :
·         Faktor-faktor produksi (tanah, modal, tenaga kerja, kewirausahawan) dimiliki dan dikuasai oleh pihak swasta
·         Pengambilan keputusan ekonomi bersifat desentralisasi, diserahkan kepada pemilik faktor produksi dan akan dikoordinir oleh mekanisme pasar yang berlaku
·         Rangsangan insentif atau umpan balik diberikan dalam bentuk utama materi sebagai sarana memotivasi para pelaku ekonomi
2.      Sistem Perekonomian Perencanaan (Etatisme/Sosialis)
Pencentus ide sistem ekonomi etatisme adalah Karl Max, yang diilhami dengan penderitaan kaum buruh yang yang terjadi saat itu, sebagai ulah kaum kapitalis. Dalam sistem ini diatur dibawah kendali negara.
Sistem ini dapat dilihat pada negara yang menganut faham komunis, seperti Uni Sovyet. Tahap-tahap ide etatisme/komunisme yang sempa muncul adalah :
·         Pertama, tahap dimana prinsip ekonominya adalah ‘setiap orang memberi (kepada masyarakat) menurut kemampuannya, dan setiap orang menerima sesuai dengan karyanya’.
·         Kedua, tahap tersebut berkembang menjadi ‘setiap orang memberi sesuai dengan kemampuannya, dan setiap orang menerima sesuai dengan kebutuhannya’. Dengan kata lain ‘distribusi menurut kebutuhannya’ (Suroso, 1993).
Sistem sosialis terdiri dari :
·         Sistem sosialis pasar, dengan karakteristik :
Ø  Faktor-faktor produksi dikuasai oleh pihak pemerintah/negara
Ø  Pengambilan keputusan ekonomi bersifat desentralisasi dengan dikoordinasi oleh pasar
Ø  Rangsangan dan insentif diberikan berupa material dan moral, sebagai sarana motivasi bagi para pelaku ekonomi
·         Sistem sosialis terencana (komunis), dengan karakteristik :
Ø  Faktor-faktor produksi dimiliki dan dikuasai oleh pihak pemerintah/negara
Ø  Pengambilan keputusan ekonomi bersifat sentralisasi dengan dikoordinasi secara terencana
Ø  Rangsangan dan insentif diberikan berupa material dan moral, sebagai sarana motivasi bagi para pelaku ekonomi
3.      Sistem Ekonomi Campuran
Sistem ekonomi campuran ini merupakan kombinasi ‘logis’ dari ketidaksempurnaan kedua sistem ekonomi liberalisme dan etisme. Sistem campuran mencoba mengkombinasikan kebaikan dari kedua sistem tersebut, diantaranya menyarankan perlunya campur tangan pemerintah secara aktif dalam kebebasan pihak swasta dalam melaksanakan kegiatan ekonominya.

C.   Perkembangan Sistem Perekonomian Indonesia
1.      Perkembangan sistem ekonomi sebelum orde baru
Sejak berdirinya negara Republik Indonesia, banyak sudah tokoh-tokoh negara pada saat itu telah merumuskan bentuk perekonomian yang tepat bagi bangsa Indonesia, baik secara individu maupun diskusi kelompok.
Demokrasi ekonomi dipilih, karena memiliki ciri-ciri positif yang diantaranya adalah (Suroso,1993) :
·         Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan.
·         Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
·         Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
·         Sumber-sumber kekayaan dan keuangan negara digunakan dengan pemufakatan lembaga-lembaga perwakilan rakyat, serta pengawasan terhadap kebijaksanaannya ada pada lembaga-lembaga perwakilan pula.
·         Warga negara memiliki kebebasan dalam memilih pekerjaan yang dikehendaki serta mempunyai hak akan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
Dengan demikian didalam perekonomian Indonesia tidak menginjinkan adanya :
·         Free flight liberalism, yakni kebebasan usaha yang tidak terkendali sehingga menyebabkan eksploitasi kaum ekonomi yang lemah.
·         Etatisme, yakni keikutsertaan pemerintah yang terlalu dominan sehingga mematikan motivasi dan kreasi masyarakat untuk berkembang dan bersaing secara sehat.
·         Monopoli, yakni suatu bentuk pemutusan kekuatan ekonomi pada satu kelompok tertentu, sehingga tidak meberikan pilihan lain pada konsumen untuk tidak mengikuti keinginan sang monopoli.
Akibat yang ditimbulkan dari sistem etatisme yang pernah terjadi di Indonesia dapat dilihat pada bukti-bukti berikut :
·         Semakin rusaknya saran-sarana produksi dan komunikasi, yang membawa dampak menurunnya nilai ekspor.
·         Hutang luar negri yang justru dipergunakan untuk proyek “Mercu Suar”.
·         Defisit anggaran yang semakin besar, dan justru ditutup dengan mencetak uang baru, sehingga inflasi yang tinggi tidak dapat dicegah kembali.
·         Keadaan tersebut masih diperparah dengan laju pertumbuhan penduduk (2,8%) yang lebih besar dari laju pertumbuhan ekonomi saat itu, yakni sebesar 2,2%
2.      Perkembangan sistem ekonomi setelah orde baru
Awal orde baru diwarnai dengan masa-masa rehabilitasi, perbaikan hampir diseluruh sektor kehidupan, tidak terkecuali sektor ekonomi. Rehabilitasi ini terutama ditunjukan untuk :
·         Membersihkan segala aspek kehidupan dari sisa-sisa faham dan sistem perekonomian yang lama (liberalis/kapitalis dan etatisme/komunis).
·         Menurunkan dan mengendalikan laju inflasi yang saat itu sangat tinggi, yang berakibat terhambatnya proses penyembuhan dan peningkatan kegiatan ekonomi secara umum.

D.   Para Pelaku Ekonomi di Indonesia
Dalam ekonomi mikro ada 3 pelaku ekonomi, yaitu:
·         Pemilik faktor produksi
·         Konsumen
·         Produsen
Dalam ekonomi makro ada 4 pelaku ekonomi, yaitu:
·         Sektor rumah tangga
·         Sektor swasta
·         Sektor pemerintah
·         Sektor luar negri
Sesuai dengan konsep Trilogi Pembangunan (pertumbuhan, pemerataan, dan kestabilan ekonomi), maka masing-masing pelaku tersebut memiliki prioritas fungsi sebagai berikut :
·         Koperasi à pemerataan hasil ekonomi pertumbuhan kegiatan ekonomi kestabilan yang mendukung kegiatan ekonomi.
·         Swasta à pertumbuhan kegiatan ekonomi pemerataan hasil ekonomi kestabilan yang mendukung kegiatan ekonomi.

·         Pemerintah BUMN à kestabilan yang mendukung kegiatan ekonomi pemerataan hasil ekonomi pertumbuhan kegiatan ekonomi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar